Jumat, 21 Juni 2013

SAAT BADAN TAK MAMPU MEMBAWA BEBAN



Infus, suntik, perban, berbagai macam model orang sakit, berbagai macam obat, akhirnya kembali terlihat olehku, setelah beberapa tahun yang lalu saat menemani paman yang tergolek di rumah sakit, dan menjadi saksi kegagalan dokter untuk menyelamatkannya nyawanya.


Juga pada Februari 2012 kemarin, ketika motor yang kubawa harus serempatan dengan motor lain. aku harus merelakan ibu dokter mengotak-atik kakiku dengan suntik dan jahitan, dan  sampai sekarang masih berbekas luka yg membelah antara jari tengah dan jari manis di kakiku, sekitar 7 jahitan, saya sempat berjalan timpang, pincang, beberapa pekan.

Sekitar 3 bulan lalu, saat kami berpagi-pagi di kampus,  saat aku duduk dibagian tengah, dari ruang kuliah yang membentuk huruf U,  hari itu adalah waktu prensentasi makalah. Sedang asik-asik duduk,tiba-tiba  kursi disampingku jatuh, bersama teman yang mendudukinya, jatuh kebelakang, dan kepala temanku adalah yang pertama menyentuh lantai. Kami kaget, dan ketawa lucu, pagi-pagi yang segar seperti ini kenapa bisa sampai tertidur. sampai tertawa kami terhenti saat temanku ini tidak kunjung bangkit, dan mengeluarkan suara kesakitan. Ternyata dia setengah pingsan, disertai rintihan menahan rasa sakit. Kami mengangkat tubuhnya, memindahkannya ketempat lebih lapang, dan akhinya kami menggotongnya ke rumah sakit, karena bacaan ayat-ayat ruqiah tidak terlalu bereaksi terhadap temanku.

Aku tau betul, apa yang sedang dipikirkannya, tugas menumpuk, kewajiban untuk prensentasi makalah, membuat teman ku harus menghabiskan malamnya duduk didepan laptop, di perpus. Selain itu tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kerjaan di rektorat. Cukuplah untuk membuat kodisinya ambruk, babak belur. Temanku ini adalah yang pertama yang menghirup aroma rumah sakit. dan menjadi ‘korban’ belajar dengan intensitas tinggi seperti ini.

Hari ini, aku kembali kerumah sakit, lebih tepatnya Rumah Sakit Islam Bogor yang berada di samping kampus, tapi bukan sebagai pasien. Seorang teman mahasiswa harus kembali tumbang, karena tekanan darah dan jantungnya yang tiba-tiba tidak stabil, membuatku dan sahabat mahasiswa yang lain harus bermalam dan menunggunya di rumah sakit. Beruntung sahabatku ini punya keluarga di Bogor, punya teman seperti kami, dan ust-ust yang siap dengan bantuannya.

‘Dokter’ itu menjelaskan, bahwa  sahabatku harus dirawat inab, karena kondisinya yang begitu lemah. Kuatir terjadi apa-apa jika kembali ke asrama. Padahal sahabatku ini terlihat sehat pada sebelum-sebelumnya.

Lagi-lagi  karena beban yang dirasakannya, jadwal kuliah yang padat membuat waktu mengerjakan tugas-tugas kami yang menumpuk semakin tipis, ujian semester akhir yang semakin dekat, juga keharusan mengumpulkan proposal tesis akhir bulan juni ini. Membuatnya terlalu tegang dan akhinya tubuhnya tidak mampu menahan beban pikiran, tiba-tiba dia lemas, sesak napas, jantung yang tak karuan. Dia adalah orang kedua yang menjadi ‘korban’ belajar dengan intensitas tinggi seperti ini.

Tahmid pun berkali-kali terucap di lisanku, badanku yang ‘kurus’ ini (terkadang teman-teman menyebutku ‘anak bawang’), masih bisa membawa ku untuk tetap kuat dan bertahan, menahan beban yang tidak ringan untuk sebuah amanah, yang telah kulalui sejak oktober 2012 lalu.

Ya Allah, tinggal beberapa hari lagi, untuk menyelesaikan kuliah ini, berikanlah hamba-Mu kekuatan,  dan semoga sampai kuliahku benar-benar final, kesehatan selalu bersamaku. Beserta suskses nya kuliah ku (lulus tepat waktu dan mendapatkan hasil yang baik)




Rumah sakit Islam Bogor, Kamis 20 Juni 2013

2 komentar:

  1. Selamat berjuang, Akhi... Doa kami selalu menyertai mu... Nama besar Hidayatullah harus antum harumkan di sana. Semoga Allah menjagamu selalu.... Allahu yubarik fik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. syukron lak akhyl karim
      doa-doa kalian begitu terasa.... :)

      Hapus

terimakasih